Profesor Sarjiya Menangis Mengenang Jasa Orangtua dan Adik Perempuan

Sang adik tidak bisa melanjutkan pendidikan tingkat SMA karena orangtua tak sanggup menyekolahkan dua anak sekaligus

JurnalGuru.Id – Momen haru tercipta saat pengukuhan Guru Besar Prof Ir Sarjiya MT, Ph.D, IPU di ruang Balai Senat UGM, Kamis (2/1).

Dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UGM ini suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca saat membacakan pidato pengukuhan.

Beberapa kali ia harus berhenti sejenak membacakan teks pidato untuk menyeka air matanya yang mengalir deras.

Jangan Lewatkan
1 of 540

Prof Sarjiya lahir 51 tahun silam ini dari keluarga sederhana di Lendah, Kulonprogo. Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ayahnya, Pujidiyono, sehari-hari bekerja sebagai buruh tobong labor atau perajin gamping.

Sedangkan sang ibu, Sumirah, merupakan pedagang gula jawa yang setiap harinya berkeliling menyusuri jalan di kota Yogyakarta untuk menjajakan dagangannya.

“Bapak dan Ibu waktu itu berani membuat keputusan untuk mengizinkan dan membiayai saya melanjutkan sekolah,” katanya.

Laman UGM.AC.ID melaporkan bahwa kedua orangtua Prof Sarjiya tidak memiliki kemampuan baca dan tulis karena tidak pernah merasakan bangku sekolah. Meski begitu, keduanya tetap gigih menyekolahkan dirinya meski keputusan itu harus mengorbankan pendidikan adik perempuannya.

“Secara khusus saya mohon maaf kepada adikku, Suparsih, yang waktu itu terpaksa tidak bisa melanjutkan ke bangku SMA. Padahal nilai ujian SMP yang sangat baik. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah kita berdua secara bersamaan,” kenang Prof Sarjiya.

Ia berharap pengorbanan kakak-kakak dan adik mendapatkan imbalan kebaikan yang lebih banyak dari Tuhan Yang Maha Esa.

Prof Sarjiya merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Selain adik perempuan yang berkorban, kakak-kakaknya juga memberikan dukungan penuh agar Sarjiya bisa sekolah.

Baca Juga  Artificial Intelligence dan Big Data Mempercepat Pengembangan Obat Baru

Usai menyampaikan pidato, Sarjiya mendatangi sang ibunda sambil bersujud. Ia memeluk ibundanya dengan erat.

Selanjutnya ia menyalami empat saudari perempuannya. Sayang, sang ayah tidak hadir di momen pengukuhan dirinya karena sudah berpulang. “Matur nuwun Bu,” kata Sarjiya terbata-bata.

Sarjiya menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Pengkol, Kulon Progo tahun 1987. Ia merampungkan pendidikan menengah pertama di SMP Brosot tahun 1990.

Selanjutnya, pendidikan sekolah menengah diselesaikan di SMAN 1 Teladan Kota Yogyakarta tahun 1993 dan di tahun yang sama melanjutkan kuliah di S1 Teknik Elektro UGM.

Lalu pendidikan S2 dilanjutkan di Magister Teknik Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik, lulus tahun 20021. Pendidikan doktor diselesaikan di prodi Electrical Enggineering, Chulalongkorn University, Thailand.

Pidato pengukuhan Profesor berjudul “Integrasi Variable Renewable Energy dalam Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga Listrik Menuju Transisi Energi Berkelanjutan”.

Sarjiya mengatakan untuk menuju transisi energi yang berkelanjutan di Indonesia diperlukan dalam rangka pemanfataan secara optimal seluruh potensi energi baik terbarukan maupun non terbarukan.

Dengan karakterisitik intermitensinya, integrase potensi variable renewable energy ke dalam grid untuk memenuhi kebutuhan energi nasional menghadapi banyak tantangan.

Oleh kerena itu diperlukan inovasi dalam perencanaan dan operasi sistem tenaga untuk memastikan layanan energi listrik yang handal, aman, berkualitas dapat diberikan kepada konsumen dengan biaya penyediaan yang ekonomis.

Sumber: UGM.AC.ID

Comments
Loading...