Madrasah Pasi Janeng Sekolah di Wilayah Indonesia Paling Barat

Kondisi MIN 47 jauh dari layah sebagai satu-satunya madrasah di wilayah paling barat Indonesia

JurnalGuru.Id – Rombongan pejabat Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Aceh Besar berada di pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, untuk bersiap menyerang ke Pulo Aceh.

Kepala Kankemenag Aceh Besar Saifuddin yang memimpin rombongan tersebut menjelaskan bahwa rombongan akan menengok madrasah yang ada di sana.

Saifuddin menjelaskan, kunjungan kali ini merupakan bagian dari program Sawue Sikula (Kunjung Sekolah).

Jangan Lewatkan
1 of 613

“Program ini bertujuan untuk memantau kondisi madrasah di Aceh Besar. Terutama, madrasah-madrasah yang ada di pulau terpencil salah satunya yang akan kita tengok, Madrasah Ibtidaiyah Negeri 47 (MIN 47) Pasi Janeng,” ungkapnya melalui laman Kemenag.Go.Id.

Untuk menuju ke lokasi tersebut, Saifuddin dan rombongan harus naik perahu kayu milik nelayan Pulo Aceh.

“Transportasi ke lokasi terbatas dan ternyata tidak ada jadwal pelayaran di hari Jumat ini. Jadi kita harus ikut perahu nelayan Pulo Aceh yang sedang berada di dermaga Ulee Lheu,” terang Saifuddin.

Pulo Aceh sendiri merupakan sebuah kecamatan kepulauan paling barat Indonesia.

Kecamatan kepulauan tersebut terdiri atas dua pulau yakni Pulau Nasi dan Pulau Breuh dan terdiri dari 17 desa. Kecamatan ini letaknya terpisah dengan kecamatan lain yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar.

MIN 47 Pasi Janeng berada di Pulau Nasi, salah satu pulau yang berada di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Madrasah ini, merupakan satu-satunya madrasah di kecamatan paling barat Indonesia tersebut.

“Saya sengaja membawa rekan-rekan ASN ke MIN 47 Pasi Janeng ini. Saya ingin jelang Hari Amal Bhakti (HAB) ke-78 Kemenag, rekan-rekan ASN juga merenungi, bakti apa lagi yang harus kita upayakan untuk masyarakat di daerah terpencil seperti Pulo Aceh,” papar Saifuddin.

Setelah 1,5 jam berlayar di tengah kondisi laut yang kurang bersahabat, Saifuddin dan rombongan pun tiba di dermaga Pulo Aceh.

Lelah perjalanan terbayar dengan pemandangan indah di sana. Di pulau itu, juga terdapat mercusuar tua peninggalan kolonial yang dikenal dengan Willem’S Toren atau lebih dikenal dengan Mercusuar Pulo Breuh.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan dengan mobil bak terbuka menuju MIN 47 Pasi Janeng. Di madrasah yang memiliki 11 guru dengan 33 siswa tersebut, rombongan disambut dengan hangat.

“Kami juga membawa bingkisan dan beberapa hadiah untuk guru dan siswa di sana. Ini sebagai salah satu bentuk perhatian kami dan kehadiran Kemenag bagi masyarakat di sana,” kata Saifuddin.

“Tidak ada yang bisa menduga bisa jadi anak-anak dari Pulo Aceh akan menjadi pemimpin di masa mendatang, menjadi camat, bupati, gubernur dan profesi lainnya,”imbuh pria yang akrab disapa Yahwa ini di sela-sela penyerahan bingkisan.

 

Bingkisan buat murid madrasah di Pulo Aceh -- Kemenag
Bingkisan buat murid madrasah di Pulo Aceh — Kemenag

 

Di Pulo Aceh, Kemenag Aceh Besar menggelar program Saweu Sikula atau Kunjung Sekolah, penyerahan santunan untuk yatim piatu dan fakir miskin, safari Jumat di 6 masjid, bakti sosial, pelatihan petugas tajhiz mayat, dan kunjungan ke lahan lokasi KUA Pulo Aceh.

Pulo Aceh bagian Aceh Besar dan terluar. Pulo Aceh dipilih agar kehadiran Kemenag lebih bisa dirasakan.

Hampir seluruh fasilitas di Pulo Aceh sangat jauh dari layak sehingga kehadiran Kemenag dapat sedikit memberi gambaran pada semua ASN Kemenag bahwa masih ada daerah yang sangat minim fasilitas dari situ kita berharap akan tumbuh rasa syukur dan rasa empati sesama bagi semua ASN Kemenag.

Saifuddin akan memperjuangkan hadirnya KUA SBSN di Aceh Besar agar dapat melayani masyarakat dengan optimal.

Selama ini, layanan KUA untuk masyarakat Pulo Aceh terpaksa menggunakan fasilitas pondok pesantren di Pulau Breuh, kemudian di Pulau Nasi pihaknya menyewa rumah warga, artinya ada dua tempat untuk pelayanan KUA di kecamatan tersebut.

“Insya Allah dengan kunjungan dalam rangka HAB ini Kemenag Aceh Besar berupaya menyentuh daerah terluar dan kepulauan di Aceh Besar, Kemenag Aceh Besar akan berkoordinasi dengan pihak provinsi dan pusat dalam usaha pembangunan KUA SBSN di Pulo Aceh yang selama ini masih belum tersentuh sama sekali,” ujarnya.

Ia berharap kunjungan ini tidak berhenti di sini, namun pihaknya akan terus memberikan perhatian untuk pulau terluar di Aceh tersebut.

“Harapan yang paling utama adalah dengan hadirnya para stakeholder Kemenag Aceh Besar di Pulo Aceh, kita akan lebih peka untuk membantu sesama dan meningkatkan rasa syukur,” ungkapnya.

Kegiatan di pulau tersebut disambut positif oleh masyarakat sekitar, hal itu terlihat dari respon masyarakat, tokoh masyarakat, para siswa, dan antusiasme para warga dalam mengikuti berbagai program yang digelar oleh Kemenag Aceh Besar.

Sebagai informasi, dalam rangka HAB ke-78, Kemenag Aceh Besar memfokuskan program di wilayah pedalaman dan terluar.

Sebelumnya, pihak Kemenag Aceh Besar menggelar program Saweu Sikula di daerah pedalaman Seulimuem yang terletak di daerah pegunungan Seulawah.

Sumber: Kemenag.Go.Id

Comments
Loading...