Nadiem Tegaskan Teknologi Tidak Akan Mampu Mengggantikan Guru

Kemendikbudristek Mengakselerasi Transformasi Pendidikan Melalui Standar Baru Pengembangan Teknologi

JurnalGuru.Id – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengungkap peran penting transformasi teknologi untuk kemajuan pendidikan.

Salah satu hal yang sangat penting mengenai transformasi teknologi adalah untuk bisa mengubah mindset hingga meningkatkan kompetensi guru-guru di Indonesia.

“Kami di Kemendikbudristek selalu meyakini peran teknologi sebagai enabler. Teknologi tidak akan menggantikan peran guru, tenaga pendidik, dan kepala sekolah,” kata Nadiem dalam acara perilisan laporan kajian dampak platform teknologi Kemendikbudristek yang digelar di Jakarta, Rabu (6/12).

Jangan Lewatkan
1 of 583

“Teknologi kita manfaatkan dalam dunia pendidikan untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia dalam mengakselerasi perubahan ke arah yang lebih baik,” kata Nadiem.

Rilis ini disiapkan oleh konsultan manajemen global independen, Oliver Wyman. Rilis ini terkait dengan dampak terkini kebijakan Merdeka Belajar dan peran teknologi dalam transformasi ekosistem Pendidikan Indonesia.

Laporan dari lembaga Oliver Wyman diberi tajuk “Dampak Peran Teknologi dalam Transformasi Pendidikan Indonesia”.

Oliver Wyman mencatat Merdeka Belajar telah memberikan hasil yang menjanjikan berkat ekosistem digital yang dikembangkan Kemendikbudristek.

Dalam riset ini, Oliver Wyman melakukan analisis berdasarkan survei terhadap 118.000 guru dan kepala sekolah, serta data aktual penggunaan pemanfaatan platform digital yang diluncurkan Kemendikbudristek.

Menurut Laporan Pemantauan Pendidikan Global UNESCO 2023, tiga tantangan paling penting dalam pendidikan saat ini adalah kesetaraan dan inklusi, kualitas, serta efisiensi.

Analisis Oliver Wyman terhadap transformasi pendidikan di Indonesia menunjukkan tanda-tanda positif peningkatan efisiensi, serta perubahan pola pikir dan perilaku di kalangan pelaku pendidikan.

Baca Juga  Kemendikbudristek Pastikan Pramuka Menjadi Ekstrakurikuler Wajib

Oliver Wyman mencatat beberapa tantangan utama dalam sistem pendidikan Indonesia yang kompleks yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan Indonesia.

Pertama, kurikulum “one-size-fits-all” menyebabkan kurangnya kesadaran di antara kepala sekolah tentang pentingnya menyesuaikan strategi pembelajaran dengan keadaan sekolah.

Kemudian, mentalitas “zona nyaman” menghambat motivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Terakhir, akses pelatihan berkualitas yang terbatas karena distribusi letak fasilitas pelatihan guru yang belum merata dan sistem pengelolaan pelatihan yang terdesentralisasi menyebabkan terbatasnya kuota pelatihan.

 

Mendikbudristek Nadiem Makarim -- Kemendikbudristek
Mendikbudristek Nadiem Makarim — Kemendikbudristek

 

Menyikapi berbagai tantangan seperti ini, Kemendikbudristek meluncurkan Merdeka Belajar.

Ini merupakan kebijakan komprehensif yang bertujuan untuk mentransformasi sistem pendidikan Indonesia.

Kemendikbudristek mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan membangun dan mengembangkan ekosistem produk teknologi, seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM), Rapor Pendidikan, ARKAS, dan SIPLah.
Selama kurang dari dua tahun, platform tersebut secara terintegrasi telah menjadi bagian dari penunjang operasional dan aktivitas pembelajaran bagi lebih dari 3 juta guru di Indonesia.

Claudia Wang, Partner dan Asia Pacific Education Practice Lead Oliver Wyman, menjelaskan ada pergeseran global yang menuju digitalisasi dan membuat pendidikan lebih cerdas.

“Indonesia dengan gerakan Merdeka Belajar menuju arah yang benar,” kata Claudia.

Tahun 2019, dari sekitar 3 juta guru di Indonesia, hanya sekitar 620.000 (-20%) yang mengikuti pelatihan kompetensi guru karena keterbatasan kuota.

Pada November 2023, PMM meningkatkan jumlah peserta pelatihan sebanyak 4,1 juta peserta, meningkat 7 kali lipat dibandingkan tahun 2019.

Lalu, lebih dari 40% atau 80.000 guru di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) telah menggunakan aplikasi tersebut untuk mengakses materi pembelajaran berkualitas.

Hal ini menyebabkan pergeseran budaya di kalangan pelaku pendidikan di seluruh negeri menuju mentalitas pembelajar sepanjang hayat dan fokus untuk memberikan pembelajaran berkualitas bagi murid.

Pergeseran paradigma juga terjadi di Kemendikbudristek dalam pengembangan ekosistem produk teknologi yang berorientasi pengguna dan terintegrasi.

Baca Juga  Kemendikbud Resmi Rilis 1.692 Mahasiswa Lolos Program IISMA 2023

PMM telah membantu meningkatkan keterampilan belajar mengajar guru-guru di Indonesia, dengan 84 persen memanfaatkannya untuk aktivitas terkait pembelajaran, seperti Pelatihan Mandiri dan webinar.

Fitur Pelatihan Mandiri mencatat 4,1 juta peserta antara 2022 hingga 2023, hampir tujuh kali lipat dari jumlah peserta pelatihan tatap muka selama 2019.

Platform Rapor Pendidikan telah digunakan oleh 95 persen sekolah di seluruh Indonesia, dan lebih dari 60 persen telah mulai menggunakan data pendidikan dan hasil penilaian untuk membantu perencanaan kegiatan tahunan sekolah.

Pendekatan pengambilan keputusan berbasis data ini menjadi langkah perubahan signifikan dari ketergantungan pada bukti anekdotal di tahun-tahun sebelumnya.

 

Platform ARKAS

ARKAS (Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) dan integrasinya dengan SIPLah (Sistem Informasi Pengadaan Sekolah) memainkan peran penting dalam membantu guru meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pelaporan anggaran sekolah, manajemen, dan pengadaan.

Sekitar 75 persen responden dari semua wilayah mengakui kemampuan platform dalam menyederhanakan proses dan menghemat waktu.

Selain itu, 45 persen responden menyatakan bahwa mereka menggunakan waktu yang dihemat untuk fokus pada peningkatan kualitas pengajaran dan meningkatkan proses pengajaran di sekolah mereka.

Claudia menegaskan lagi bahwa Gerakan Merdeka Belajar telah memberikan hasil yang menjanjikan, meskipun sistem pendidikan Indonesia besar dan bersifat heterogen.

Salah satunya ditunjukkan melalui capaian PISA 2022 Indonesia yang menunjukkan kenaikan posisi 5 sampai 6 di bidang literasi.

Strategi reformasi dan teknologi yang dilakukan Indonesia telah berada di jalur yang benar, sehingga diperlukan keberlanjutan perubahan untuk mencapai transformasi sebenarnya.

“Agar hasil jangka menengah dapat tersolidifikasi dalam jangka panjang, dibutuhkan ketekunan dan kesabaran,” tambah Claudia Wang.

Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, optimistis dengan masa keseluruhan program yang sudah berjalan.

Baca Juga  Program Revitalisasi Bahasa Daerah Menjangkau 157 Kabupaten/Kota di 13 Provinsi

“Kami selalu meyakini peran teknologi sebagai enabler. Teknologi tidak akan menggantikan peran guru, tendik, dan kepala sekolah. Teknologi kita manfaatkan dalam dunia pendidikan untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia dalam mengakselerasi perubahan ke arah yang lebih baik,” kata Nadiem.

Sumber: Kemendikbudristek

Comments
Loading...