Pekerja Migran Indonesia di Singapura Pilh Lanjutkan Kuliah, Ini Alasan Mereka

Animo kawan-kawan pekerja migran Indonesia untuk kuliah di UT meningkat drastis.

JurnalGuru.id — Animo pekerja migran Indonesia (PMI) di Singapura untuk melanjutkan kuliah terus meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya mahasiswa baru di Universitas Terbuka (UT) Pokja Singapura.

Koordinator Pokja UT Singapura, Fajar Krisna, mengungkapkan terdapat 45 mahasiswa baru di UT Pokja Singapura. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

”Animo kawan-kawan pekerja migran Indonesia untuk kuliah di UT meningkat drastis. Selain karena promosi gencar yang dilakukan asosiasi mahasiswa UT, juga karena kesadaran akan perlunya upgrading pendidikan mereka,” beber Fajar dalam keterangan tertulis, Jumat (22/9/2023).

Jangan Lewatkan
1 of 540

Peningkatan tingkat pendidikan menjadi salah satu cara menambah posisi tawar pekerja migran Indonesia di Singapura. Mulai 2023, pemerintah Singapura juga mulai merekrut tenaga kerja terdidik dari Indonesia pada sektor kesehatan dengan rekrutmen tenaga perawat.

Hal ini menumbuhkan kesadaran baru di kalangan pekerja migran Indonesia pada sektor domestik. “Menempuh pendidikan sarjana adalah salah satu pilihan yang tepat,” papar Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura, IGAK Satrya Wibawa.

Dia mengatakan fleksibilitas waktu, masa kuliah, serta ringannya biaya pendidikan yang ditawarkan UT menjadi formulasi tepat bagi pekerja migran. Sebab, sebagian besar harinya dihabiskan untuk bekerja.

“Menjadi mahasiswa UT menunjukkan pekerja migran kita punya kelebihan lain yang sangat langka, yaitu manajemen waktu dan manajemen masa depan,” ujar Satrya.

Berdasarkan aturan ketenagakerjaan di Singapura, pekerja migran di sektor domestik hanya memiliki satu hari libur setiap minggunya. Belum lagi, jam kerja mereka sangat padat.

Baca Juga  Kaleidoskop Pendidikan 2022: Prestasi Siswa Indonesia Harumkan Nama Bangsa

Sehingga, seringkali mereka belajar tengah malam usai bekerja atau di hari Minggu yang menjadi satu-satunya hari libur.

“Mahasiswa yang bukan pekerja migran setiap waktunya dipergunakan untuk kuliah, sedangkan pekerja migran harus mengatur waktu sedemikian rupa agak bisa kuliah di tengah kesibukan bekerja,” ujar Satrya.

Hal itu diakui mahasiswa yang juga ketua asosiasi mahasiswa, Siti Mujiati. Pekerja migran Indonesia itu mengaku belajar sampai tengah malam.

“Kami kadang belajar berkelompok hingga tengah malam menggunakan Zoom. Kadang sampai tertidur di depan komputer,” cerita Siti.

Namun, dia mengaku teman-temannya sangat ingin mengubah nasib dan masa depan menjadi pekerja terdidik dan punya keahlian khusus. Kehadiran UT sangat membantu pekerja migran.

Koordinator Pendidikan Luar Negeri UT, Pardamean, menyebut jumlah mahasiswa baru UT sebanyak 45 sebetulnya masih sangat sedikit. Angka itu dibandingkan dengan 100 ribu pekerja migran Indonesia di Singapura.

“Namun, angka ini menjadi signifikan karena merekalah yang akan menjadi contoh bagi pekerja migran lainnya,” jelas Pardamean.

UT Pokja Singapura dipilih menjadi tempat acara penerimaan mahasiswa baru. Hal ini lantaran peminat di Singapura tinggi, sehingga menjadi pusat acara penerimaan mahasiswa baru UT dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Korea, dan beberapa negara Eropa.

“Singapura dapat menjadi salah satu pokja yang diandalkan untuk membantu target capaian sejuta mahasiswa Universitas Terbuka,” beber Pardamean yang disambut tepuk tangan meriah dari mahasiswa baru UT yang hadir.

Adapun pekerja migran Indonesia di Singapura rata-rata mengambil prodi yang sesuai dengan posisi kerja mereka. Seperti penerjemahan bahasa Inggris, akutansi, komunikasi, serta manajemen bisnis.

“Banyak mahasiswa UT Pokja Singapura akhirnya punya pekerjaan sampingan seperti fotografer atau penerjemah karena dibantu dengan ilmu yang mereka dapat dari UT,” ungkap Satrya.

Baca Juga  Yuk Daftar, Beasiswa S1 Petrokimia Gresik Sediakan Kuliah Gratis dan Uang Saku Bulanan

Mendadak Riuh

Aula Sekolah Indonesia Singapura mendadak riuh oleh kedatangan perempuan berkemeja putih dan rok hitam pada Minggu, 3 September 2023. Wajah ceria mereka berpadu dengan sapaan-sapaan kecil dari sesama yang saling mengenal.

Beberapa terlihat sedang mengisi formulir, juga menyiapkan jaket berwarna kuning pada tempat duduk di aula sekolah yang kerap dipakai sebagai tempat bertemu siswa Sekolah Indonesia Singapura.

Mereka adalah pekerja migran Indonesia di Singapura yang mengikuti acara Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Terbuka Pokja Singapura.

(Sumber: Medcom.id)

Artikel ini telah tayang di Medcom.id dengan judul “Makin Banyak Pekerja Migran Indonesia di Singapura Lanjutkan Kuliah

Comments
Loading...