Kampus Umika dan STIE Tribuana Protes Izin Dicabut, Ini Kata Dikti-Ristek

Kedua kampus tersebut tidak terima atas tuduhan yang dianggap tak berdasar

JurnalGuru.id – Universitas Mitra Karya (Umika) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STEI) Tribuana meminta bukti dan data terkait tuduhan jual beli ijazah dan penyelewengan beasiswa Kartu Indonesia Pintar kepada Direktorat Kelembagaan Dirjen Dikti Ristek.

Kedua kampus tersebut tidak terima atas tuduhan yang dianggap tak berdasar itu.

Direktur Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Dikti-Ristek) Lukman menyampaikan kampus yang ingin protes dapat menyampaikan langsung ke pihak Inspektorat Jenderal Kemendikbud-Ristek.

Jangan Lewatkan
1 of 540

Sebab temuan-temuan tersebut didapat dari Irjen Kemendikbud-Ristek.
Lukman juga mengatakan bagi kampus yang ingin protes dan tidak terima atas tindakan pencabutan izin kampus, dapat menyampaikan gugatan Pengadilan Tinggi Negeri Usaha (PTUN).

“Terkait penyimpangan KIP itu ada di Irjen ya. Kalau di kami penyimpangan akademik. Kami sudah serahkan di surat berita acara yang kami serahkan saat monitoring. Jadi itu yang harus dipedomani,” kata Lukman saat dihubungi, Senin (12/6).

“Kami tidak pernah menyebut nama dan kesalahan setiap perguruan tinggi. Sekarang dikembalikan saja ke perguruan tinggi masing-masing. Kalau mau menggugat juga silakan ke PTUN, kami tidak membuka ke publik,” tambahnya.

Selama periode 2022-2023 terdapat 52 laporan perguruan tinggi (PT) bermasalah yang masuk dalam data Kemendikbud-Ristek.

Daerah yang terdapat PT bermasalah yakni Bali (2), Banten (4), Jakarta (7), Jawa Barat (13), Jawa Timur (6), Kalimantan barat (2), Kepulauan Riau (1), Sulawesi Selatan (5), Sulawesi Utara (3), Sumatera Barat (2), Sumatera Selatan (1), Sumatera Utara (5), dan Yogyakarta (1).

Baca Juga  Kemendikbud Minta Rektor Transparan soal Seleksi Jalur Mandiri

Lindungi Mahasiswa dari Penipuan

Sebelumnya Kemendikbud Ristek mencabut izin operasional sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) yang bermasalah. Pencabutan itu dilakukan dengan alasan melindungi mahasiswa dari penipuan.
“Pencabutan izin operasional sejumlah perguruan tinggi dilakukan untuk melindungi masyarakat, terutama mahasiswa, dari penyelenggaraan pendidikan yang buruk dan penipuan oleh penyelenggara pendidikan yang nakal,” jelas Pelaksana Tugas Direktur Jenderal (Plt. Dirjen) Dikti Ristek, Nizam, Kamis (8/6).

Keputusan untuk mencabut izin operasional beberapa PTS tersebut sudah berdasarkan fakta dan data yang tervalidasi, yang dimulai dari laporan masyarakat atau hasil pemantauan lapangan.

Nizam mengungkapkan setiap laporan masyarakat yang disertai bukti awal selalu ditindaklanjuti dengan pendalaman dan evaluasi lapangan.

“Sebelum menjatuhkan sanksi, Kemendikbud Ristek terlebih dahulu menurunkan berbagai tim. Mulai dari LLDikti (Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi), Direktorat Kelembagaan, tim Evaluasi Kinerja Akademik, bahkan tim Inspektorat Jenderal. Berdasar evaluasi mendalam dan rekomendasi itulah dilakukan pembinaan hingga bila terpaksa dilakukan pencabutan izin,” ungkap Nizam.

Perguruan tinggi yang izinnya dicabut adalah perguruan tinggi yang melakukan pelanggaran berat. Bentuk pelanggaran yang terjadi juga beragam. Misalnya, tidak memenuhi ketentuan standar pendidikan tinggi, melaksanakan pembelajaran fiktif, melakukan praktik jual beli ijazah, melakukan penyimpangan pemberian beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), atau karena perselisihan badan penyelenggara sehingga pembelajaran tidak kondusif.

“Sanksi yang dijatuhkan sesuai dengan tingkat pelanggaran. Jadi, pencabutan izin operasional ini merupakan bentuk perlindungan pemerintah terhadap mahasiswa dan masyarakat. Jangan sampai mahasiswa mendapat ijazah yang tidak sah dan bermasalah di kemudian hari. Kami tidak bisa membiarkan masa depan mahasiswa yang seharusnya cerah, menjadi redup karena praktik perguruan tinggi yang nakal,” tegas Nizam. Plt.

Dirjen Dikti Ristek itu berharap kepada para calon mahasiswa yang akan mendaftar kuliah di perguruan tinggi agar berhati-hati.

Baca Juga  Mahasiswa Dipersulit Pindah, Kemendikbud Minta Lapor Polisi

“Jangan mudah tergiur dengan iming-iming beasiswa. Pastikan perguruan tinggi dan program studi yg akan anda masuki terakreditasi. Saat sudah diterima menjadi mahasiswa, pastikan pembelajaran betul-betul terjadi, serta dosennya kompeten dan sesuai dengan prospektus. Kalau tidak sesuai laporkanlah ke LLDikti terdekat atau melalui laman Lapor di Kemendikbud Ristek.” ucap dia.

Meskipun berdasar peraturan pemenuhan hak mahasiswa untuk pindah merupakan tanggung jawab badan penyelenggara PT yang izinnya dicabut, tetapi pemerintah tetap melindungi, mengadvokasi, dan memfasilitasi mahasiswa yang terdampak untuk pindah dan mendapatkan hak-haknya.

“Mahasiswa yang terdampak dapat menghubungi LLDikti setempat agar dibantu proses pengalihan angka kreditnya. Atau, mahasiswa bisa langsung ke PTS yang sehat untuk pindah. Nilai dan sks yg sdh diperoleh dapat ditransfer ke PTS baru selama proses perolehan sks tsb melalui pembelajaran sesuai standar. Bagi mahasiswa penerima KIP-K, LLDikti juga membantu memastikan agar mahasiswa yang pindah tidak kehilangan haknya,” kata Nizam.

Lebih lanjut Nizam menjelaskan bagi dosen dan tenaga pendidik yang memiliki rekam jejak baik, akan dipindah ke perguruan tinggi yang sehat. Sementara bagi yang terbukti ikut serta dalam pelanggaran akan diberikan sanksi dan di-black list.

Terkait penyelewengan sarana dan prasarana, Nizam menjelaskan bahwa hal tersebut diserahkan kepada ketentuan hukum. Begitupun dengan hal-hal terindikasi pidana lainnya.

“Sesuai peraturan perundangan yang berlaku, pengenaan sanksi administratif tidak menunda dan tidak meniadakan sanksi pidana. Indikasi pidana akan diproses Inspektorat Jenderal dan Biro Hukum Kemendikbud Ristek untuk kemudian diserahkan kepada kepolisian maupun kejaksaan,” tandas Nizam.

Sampai akhir Maret 2023, tercatat ada 4.231 Perguruan tinggi dengan 29.324 program studi. Selain itu, terdapat lebih dari 9 juta mahasiswa dan 330 ribu dosen yang tersebar di seluruh Indonesia. Pengaduan masyarakat terkait penyelewengan yang dilakukan perguruan tinggi dapat dilakukan melalui https://sidali.kemdikbud.go.id/app.

Baca Juga  Kemendikbud Minta Rektor Transparan soal Seleksi Jalur Mandiri

(Sumber: Mediaindonesia.com)

Artikel ini telah tayang di Mediaindonesia.com dengan judul “Umika dan STIE Tribuana Minta Bukti dan Data Terkait Tuduhan Jual Beli Ijazah, Ini Kata Dikti-Ristek” dan “Kemendikbud Ristek: Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta Bermasalah untuk Lindungi Mahasiswa dari Penipuan

Comments
Loading...