Pendidikan Mengubah Dunia

Untuk menciptakan manusia cerdas, berkualitas, berintegritas, serta berakhlak mulia, kian dibutuhkan sistem pendidikan yang mampu menguatkan karakter

Selain, menyiapkan generasi yang memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi berbagai macam tantangan global. Generasi yang mampu merespons dan menyelesaikan beragam persoalan yang terjadi di masa kini dan nanti.

PENDIDIKAN berlangsung sepanjang masa, sepanjang usia adalah sebuah fakta. Sering pula dikatakan bahwa pendidikan itu selama hayat, seumur hidup atau life long education.

Karenanya, cukup beralasan jika pendidikan harus ditujukan kepada siapa saja, untuk  semua – education for all. Maknanya, setiap warga negara, tanpa kecuali, tanpa sekat dan pembatas, tanpa cluster dan pembedaan, berhak mendapatkan layanan pendidikan, di mana saja, dan kapan saja yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Dengan begitu, pendidikan untuk semua menuntut adanya pemerataan pendidikan hingga ke seluruh pelosok tanah air. Tiada yang terlewat, lebih – lebih untuk kawasan yang sering disebut daerah 3T ( Terdepan, Terluar dan Tertinggal).

Jangan Lewatkan

Happy Teachers’ Day!

Guru, Pahlawan Sepanjang Masa

1 of 5

Tidak itu saja, pendidikan untuk semua berarti pula terciptanya pemerataan kualitas pendidikan dalam bidang akademik.

Untuk menuju ke sana, tak cukup menyiapkan kurikulum baku, tercukupinya guru dan sekolah, tetapi perlu ditunjang fasilitas yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Di era sekarang di antaranya terpenuhinya jaringan internet.

Belum lagi bicara mengenai kualitas tenaga pendidik (guru), yang tak lepas dari pemenuhan sejumlah fasilitas, soal kesejahteraan.

Mengapa pendidikan harus untuk semua? Jawabnya karena pendidikan adalah sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendidikan kita bisa mengubah ketertinggalan menjadi berkemajuan. Memerangi kebodohan dan kemiskinan, mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Dengan pendidikan pula kita bisa melakukan segala upaya demi memajukan bangsa. Bahkan, dengan pendidikan dapat mengubah dunia seperti dikatakan Nelson Rolihlahla Mandela.

Dia pelaku sejarah yang membuktikan bagaimana melalui pendidikan yang ditekuni seseorang dapat mengubah dunia, setidaknya bagi negerinya.

Mandela tak hanya menjadi Presiden Afrika Selatan antara tahun 1994 sampai 1999. Dia juga penerima “tropi’ perdamaian dunia karena memperjuangkan hak asasi manusia, dan juga “gelar” pejuang anti diskriminasi dengan menghapus politik ras dan warna kulit di negerinya.

Perjalanan hidupnya menelorkan beragam goresan “kata mutiara.”  Satu di antaranya berbunyi ” Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia).

Di dalam negeri, tak terhitung pelaku sejarah di dunia pendidikan. Salah satunya, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Kita tahu, Bapak Pendidikan Nasional kita ini, telah menorehkan tinta emas dalam  sejarah perjuangan bangsa, utamanya memajukan dunia pendidikan di tanah air. Banyak ajaran yang hingga kini masih aktual, dan akan tetap aktual, di antaranya semboyan yang begitu melegenda,” Ing Ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani.”

Cerdas berintegritas

Pertanyaannya kemudian, pendidikan macam mana yang mampu mengubah dunia? Jawabnya tentu akan cukup beragam, berdasarkan masing – masing sudut pandang.

Merujuk kepada tujuan pendidikan nasional, yakni menciptakan manusia cerdas, berkualitas, berintegritas dan berakhlak mulia, maka kian dibutuhkan sistem pendidikan yang mampu membangun dan menguatkan karakter.

Pendidikan yang mampu mengembangkan bakat dan kemampuan, membentuk watak serta peradaban bangsa.

Yang pasti, membentuk manusia cerdas berkualitas perlu ditempuh melalui pendidikan yang berkualitas pula.

Ini menjadi penting, mengingat maju mundurnya suatu negara ikut ditentukan oleh kualitas pendidikan bangsanya.

Kita bisa saksikan kualitas pendidikan di negara maju berbanding lurus dengan kemajuan yang dicapai negeri tersebut.

Begitu juga di negara berkembang, kualitas pendidikannya berada pada tahapan sedang berkembang. Boleh jadi cukup lama pada level “berkembang”  bilamana kebijakan negara tersebut dalam mengelola pendidikan acap berubah. Sehingga  dikenal sebagai negara yang ganti pejabat, ganti kebijakan.

“Ilmu yang diberikan bukan sebatas untuk problem solving – problem solution saat ini. Tetapi mencetak lulusan di semua level pendidikan yang siap dan mampu menyongsong kebutuhan pasar kerja masa depan. Siap menghadapi berbagai macam tantangan secara global.”

Seringkali keputusan penting dalam pendidikan lebih banyak dilakukan birokrasi. Sementara masyarakat pendidik tidak cukup memahami maksud kebijakan baru dalam pendidikan. Akibatnya, anak-anak jadi korban kebijakan yang seolah sekadar coba-coba itu.

Kondisi seperti itu perlu lebih serius disikapi oleh pemerintah. Mestinya bukan mengganti kebijakan setiap ganti berganti pejabat, tetapi lebih fokus menyempurnakan atau membenahi sistem pendidikannya.

Kalau tiap saat bolak balik ganti kebijakan, lantas kapan memperbaiki sistemnya?

Sementara kita tahu, negara-negara lain yang sudah maju pun masih terus berlomba membenahi sistem pendidikannya demi menciptakan generasi-generasi emas yang peka terhadap pembangunan bangsa. Dan mampu

memprediksi serta menghadapi perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Di negaranya sendiri dan/atau di dunia.

Ini harus dapat dipahami dan disadari, karena masa depan selalu sangat kompetitif. Agar dapat bersaing secara kompetitif pula, perlu pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan attitude ( sikap perilaku) yang dibutuhkan, selaras untuk masa depan.

Dengan begitu sistem pendidikan yang diperlukan bukan menyiapkan generasi untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi sekarang, tetapi generasi yang memiliki kemampuan menyelesaikan beragam persoalan yang akan terjadi  kemudian, kapan saja.

Mampu berkompetisi

Ada sejumlah langkah yang harus dilakukan untuk berkompetisi di masa depan. Di antaranya memiliki sejumlah kemampuan, yakni kemampuan komunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi mo­ral suatu permasalahan, ke­mampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dengan masyarakat yang global.

Dan tentu saja, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kecepatan merespons perubahan demi kemajuan.

Negara wajib hadir memberikan perlindungan kepada warganya untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Memberikan bekal kepada setiap warganya agar memiliki kemampuan berkompetisi di dunia.

Kewajiban negara ini sudah terukir  secara jelas dan tegas sebagaimana bunyi pasal 31 UUD 1945 yang mengatur pendidikan nasional mulai dari sistem pendidikan yang perlu dibangun, sistem penganggaran hingga hasil akhirnya membentuk manusia cerdas yang beriman dan  bertakwa.

Kita paham betul bahwa ilmu, iman dan takwa adalah rangkaian kata yang tak bisa dipisahkan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu pula yang hendaknya menjadi rujukan kebijakan dalam dunia pendidikan.

Kita patut mengapresiasi, hadirnya Kurikulum Merdeka yang digulirkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Ristek, mulai tahun ajaran 2022/2023.

Kurikulum yang mendorong pembelajaran lebih mendalam sesuai kebutuhan. Kurikulum yang lebih fokus kepada penguatan karakter peserta didik. ( Soal bagaimana “membangun karakter” akan disajikan pada tulisan edisi berikut).

”Semoga melalui Kurikulum Merdeka ini, tidak akan sebatas membentuk manusia cerdas. Juga terbentuk manusia berintegritas, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia serta berjati diri bangsa Indonesia sejati sebagaimana tujuan pendidikan negeri ini.”

Selamat Hari Pendidikan Nasional. (*).


Joko Lestari
adalah tokoh pers nasional (terverifikasi di Dewan Pers)
Pernah menjadi pemimpin redaksi pada sejumlah media massa, di antaranya Pos Kota (poskota.co.id)

Comments
Loading...