Guru di Era Kekinian

Guru di Zaman Now harus selalu ready update dalam ilmu dan peran

Oleh Joko Lestari

PADA suatu hari, saya bertemu dengan guru sekaligus tutor saya. Saya pun segera menyapa dan mengenalkannya kepada teman–teman yang saat itu bersama saya, di antaranya seorang pejabat publik dan ketum salah satu parpol di negeri ini.

“Kenalkan, ini guru saya,” kataku kepada yang ada di ruangan itu.

Jangan Lewatkan

Happy Teachers’ Day!

Guru, Pahlawan Sepanjang Masa

1 of 5

Sesaat setelah saling berjabat tangan, guru saya (maaf tak disebut namanya), berkata,” Rupanya kau sekarang tidak ragu dan malu lagi mengenalkan saya sebagai gurumu.”

Sejenak saya merenung, mengingat ingat kapan saya merasa malu menyebutnya sebagai guru.

Belum juga memperoleh jawaban, sang guru berkata lagi, ”Saya sekarang juga tidak merasa malu lagi pernah menjadi gurumu. Karena kau sekarang sudah menjadi orang hebat, lebih hebat dariku. Bukankah seorang guru baru bisa dianggap berhasil, jika muridnya lebih pandai, lebih cerdas, lebih hebat dari gurunya,” kata sang guru.

“Kenyataannya kau sekarang melebihi kehebatanku sehingga aku nggak merasa malu mengakui pernah mendidikmu,” katanya lagi. Sesaat kemudian sang guru tadi pamit meninggalkan kami.

Saya pun bergegas melepas pak Guru hingga ke pintu keluar ruangan. Memori pun  sejenak berkelana, mengingat kutipan kata mutiara yang dulu sempat pak Guru sampaikan, ”Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tetapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang hebat.”

“Wah hebat. Dialah guru sejati. Layak menyandang predikat Guru yang berarti digugu lan ditiru,” komen temanku, yang anggota dewan asal Jawa Tengah.

Yah, dalam filosofi Jawa memang dikenal guru sebagai akronim dari “digugu” dan “ditiru”. Secara tekstual, digugu berarti nasihatnya perlu didengar, dipercaya atau dipatuhi. Ditiru artinya perilakunya perlu diikuti, diteladani.

Baca Juga  Ini Wajib Dilakukan Kepala Madrasah, Cek Apa Saja

Soal ini pun sudah sering diulas, tentu dengan sudut pandangnya, yang pasti filosofi ini memiliki makna yang mendalam sebagai rujukan bagaimana sejatinya menjadi seorang guru (pendidik).

Kita berharap, guru akan senantiasa menjadi tempat berpijak bagi muridnya, menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan, di mana pun, di era kapan pun, termasuk di era digital seperti sekarang ini.

Untuk itu guru harus memiliki kemampuan lebih. Terus mengupdate diri — belajar dan belajar mengikuti eranya.

Jika tidak, guru akan kalah terhadap tingkat keilmuan muridnya karena sumber belajar saat ini sudah bertebaran di dunia maya. Sehingga apa pun tiap detik bisa diakses.

Maknanya guru tidak boleh kalah dari murid. Guru harus selalu “ready update” di zaman “now”, termasuk perannya di era kekinian. Meski begitu, guru hendaknya tidak menonjolkan diri merasa lebih pandai, lebih tahu. Lebih dulu tahu, Oke, tetapi tidak lantas merasa lebih tahu segalanya, lebih-lebih di era digital sekarang ini.

Kehadiran teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa menggantikan guru, tapi guru yang tidak menggunakan teknologi akan “tertinggal”. Bagaikan kereta tak selaras dengan arah gerbongnya.

Ada tugas mulia yang hingga kini masih bertumpu pada guru. Publik sangat berharap peran ini tidak terabaikan bahwa guru tak hanya membuat anak didiknya menjadi pintar, pandai, tetapi cerdas berkualitas. Membentuk manusia yang memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral.

Peran Yang Diharapkan

Telaah para ahli, setidaknya terdapat sejumlah peran yang diharapkan di era kekinian.

Pertama, harus selalu “update ilmu.” Terutama  yang berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Kedua, menjadi penyeimbang atas  perkembangan dunia maya, agar tetap selaras dengan realita yang sebenarnya.

Ketiga, menjadi motivator. Di era digital seperti sekarang ini, guru perlu memberi motivasi kepada siswanya agar lebih berprestasi.

Baca Juga  Guru Ditawari Beasiswa ke Jepang 2023, Ini Persyaratannya

Mampu menggali potensi siswa, dan mengarahkan minat sesuai kemampuan yang dimiliki sehingga penggunaan teknologi digital makin menambah wawasan keilmuan dan pengembangan bakat. Ini yang disebut peran guru sebagai katalisator.

Keempat, menempatkan diri sebagai teman. Seorang guru hendaknya bisa menjadi teman diskusi, teman bertukar pikiran dalam proses pembelajaran.

Mampu pula menghubungkan siswa dengan sumber-sumber pelajaran yang beragam, di dalam maupun di luar kelas. Sekiranya memungkinkan diskusi di luar kelas sehingga lebih tercipta kenyamanan dalam berinteraksi. Peran fasilitator.

Kelima, sebagai filter. Era kini makin mudah mengakses beraneka ragam informasi, tapi di samping itu tidak semua info layak untuk para siswa, perlu adanya filter.  Hendaknya seorang guru ikut aktif berperan menyaring informasi negatif yang masuk. Bukan melarang, tetapi mengarahkan. Mengingat karakter generasi digital sekarang ini, tidak mau digurui, tetapi diarahkan.

Keenam, lebih kreatif dan inovatif. Jika anak didik dituntut kreatif dan inovatif, lebih – lebih gurunya.

Ingat! Kemajuan teknologi akan berpengaruh kepada cara belajar anak didik yang menjadi lebih efisien karena sumber belajar kian luas dan terjangkau melalui teknologi digital.

Jika cara mengajar masih menggunakan pola lama, tidak mengadaptasi perkembangan teknologi, tentu siswa akan lebih memilih belajar dengan caranya sendiri.

Namun, saya meyakini, secanggih apapun perkembangan teknologi, kehadiran guru tetap menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditolak. Maknanya, teknologi tidak akan bisa menggantikan guru, tapi guru yang tidak menggunakan teknologi akan “tertinggal”. Bagaikan kereta tak selaras dengan arah gerbongnya. Ini fakta yang tidak bisa dipungkiri.(*)

Joko Lestari
Merupakan tokoh pers Indonesia, sesuai catatan di Dewan Pers
Korespondensi Email
– jurnalguru.id1@gmail.com

Comments
Loading...