Tips yang Wajib Dimiliki Guru untuk Aktifkan Murid di Kelas

ada tujuh kompetensi yang harus dimiliki guru yang bisa mengaktifkan murid di kelas.

JurnalGuru.id — Implementasi Kurikulum Merdeka mengajak guru untuk melibatkan murid dalam proses pembelajaran. Namun, seringkali guru menemukan tantangan, yakni murid yang pasif selama proses belajar.

Pendidik sekaligus Ketua Kampus Guru Cikal, Marsaria Primadonna mengatakan, berdasarkan pengalamannya selama hampir 18 tahun mengajar dan berkecimpung di dunia pendidikan, ia punya sejumlah tips yang wajib dimiliki guru.

Tips tersebut ia maksudkan sebagai kompetensi, yakni kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standardisasi yang diharapkan.

Jangan Lewatkan
1 of 540

Marsaria Primadonna menyebutkan, setidaknya ada tujuh kompetensi yang harus dimiliki guru yang bisa mengaktifkan murid di kelas.

Tujuh kompetensi yang harus dimiliki guru agar siswa aktif dalam pembelajaran yaitu:

1. Memahami kurikulumnya

2. Suka bermain

3. Mengajar dengan perlahan dan menikmati

4. Memahami siswanya

5. Passionate atau antusias dalam mengajar

6. Selalu ingin belajar

7. Selalu refleksi

Bila guru memiliki kompetensi di atas, maka pembelajaran di kelas cenderung menjadi lebih aktif dan siswa antusias untuk melibatkan diri.

Marsaria juga memberikan tips bagaimana cara memantik siswa agar antusias terhadap pembelajaran.

Ia mengatakan, mendorong siswa agar aktif bisa dilakukan dengan dua cara yakni melalui pertanyaan pemantik dan kegiatan pemantik.

Sayangnya, saat memberikan pertanyaan, guru seringkali melakukan kesalahan.

“Kebiasaan kita memberi pertanyaan ‘Apakah kalian sudah paham?’, jawabannya cuma dua, kalau nggak ya paham. Atau ‘ada pertanyaan?’ jawabannya ya atau tidak. Bisa juga ‘apa yang dimaksud dengan A?’, lalu anaknya jawab, lalu gurunya jawab ‘bagus’, sudah selesai,” ungkap Pima dalam keterangan tertulis.

Baca Juga  Bagaimana agar Pelajaran Matematika Disukai Anak?

Untuk itu, guru diharapkan mengurangi untuk memberikan pertanyaan yang jawabannya hanya ‘ya’ atau ‘tidak’ dan menggantinya dengan pertanyaan pemantik.

Pertanyaan pemantik merupakan terjemahan provocation question dalam bahasa Inggris. Sehingga, terang Pima, guru harus memastikan bahwa pertanyaan yang diberikan bisa menggugah rasa keingintahuan murid.

Berikan pertanyaan yang terbuka yang membuat murid meskipun belum bisa menjawab verbal, namun setidaknya berpikir dan berefleksi.

Setelah memberikan pertanyan pemantik, guru perlu merancang kegiatan pemantik.

“Kalau kita memberikan pertanyaan pemantik, itu kan verbal biasanya, nah yang jawab umumnya hanya yang jago ngomong. Maka dari itu perlu adanya kegiatan pemantik, kita merekayasa situasi,” tutur Pima.

Kegiatan pemantik, tegas Pima, sebisa mungkin mengeksplorasi seluruh panca indera murid dan menggunakan lingkungan sekitar. Guru bisa memanfaatkan ruang kelas atau halaman sekolah.

“Salah satu yang pernah saya lakukan ketika mau belajar tentang mengorganisasi, itu abstrak ya. Murid mungkin sudah tahu artinya tapi tidak tahu maknanya. Saya berantakin kelasnya. Kursi dan peralatan kelas lainnya. Ketika anak masuk, jadi bingung, ada apa? Muncul deh pertanyaan-pertanyaan dan menjadi diskusi,” jelas Pima.

Dari murid yang terpantik keaktifannya ini dapat menjadikan pembelajaran secara otomatis menjadi berdiferensiasi.

Pasalnya, murid yang sudah tergugah rasa ingin tahunya akan mencari cara masing-masing untuk memenuhi rasa penasarannya.

Hal yang ingin mereka gali pun mungkin akan berbeda meskipun masih dalam tema pembelajaran yang sama.

(Sumber: Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “7 Kompetensi Perlu Dimiliki Guru agar Siswa Aktif, Salah Satunya Suka Bermain

Comments
Loading...